Home / Investigasi / Nusantara / Opini / Pendidikan / Politik & Hukum

Sabtu, 9 Mei 2020 - 21:57 WIB

Islam itu Syumul

Pemimpin Redaksi JURNAL, Arianto

Pemimpin Redaksi JURNAL, Arianto

Negara Madinah merupakan sebuah negara ideal. Sebagai negara yang majemuk dan plural terbukti menjadi negara maju dengan sebuah perjanjian yang disebut Piagam Madinah.

Oleh: Pemimpin Redaksi JURNAL

JURNAL NEWS, – Ide lama tentang tuntutan penerapan syariat Islam secara formal masih tetap menjadi agenda penting banyak organisasi dan tokoh Muslim. Terlebih lagi di Indonesia dewasa ini yang tengah dilanda krisis. Penegakan syariat Islam menjadi satu tawaran alternatif dalam rangka menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Usaha penegakan syariat Islam, pasca reformasi 1998, tidak hanya dilakukan melulu melalui wacana dan aksi lapangan, tapi juga melalui jalur konstitusi. Gagasan untuk menggunakan Piagam Madinah adalah satu bukti penting dalam hal ini. Lebih dari itu, aspirasi yang sama juga berlangsung di tingkat lokal. Isu syariat Islam berkembang kuat di sejumlah wilayah di Indonesia. Maka, tidak heran, jika banyak para politisi dan agamawan yang berjuang keras dan terus mengampanyekan penegakan syariat Islam.

Meskipun sering kali menjadi perdebatan dan menuai kontroversi, keinginan untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia ini tidak pernah hilang begitu saja. Alhasil, setelah memasuki orde reformasi, beberapa bagian kecil syariat Islam mulai diterapkan di berbagai daerah yang diformalisasikan melalui peraturan daerah (perda).

Syari’ah berasal dari kata syari’a, berarti mengambil jalan yang memberikan akses pada sumber. Istilah syari’ah juga berarti jalan hidup atau cara hidup. Secara umum, syari’ah berarti cara hidup Islam yang ditetapkan berdasarkan wahyu Ilahi. Sumber syari’ah adalah Al-Qur’an, Hadits, ilmu fiqh, kalam dan berbagai ijtihad manusia. Oleh karena itu, jika kita ingin memperoleh jalan keselamatan, haruslah mematuhi tuntunan syariat Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadist. Sehingga menegakkan syariat Islam dalam semua lini kehidupan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Setiap Muslim seyogyanya menegakkan ajaran Islam di semua lini kehidupan, sehingga menjadi orang Islam yang kaffah (sempurna). Praktik keislaman tidak hanya terbatas pada rukun Islam yang lima yakni syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Tetapi, meliputi semua aspek kehidupan.

Umat Islam kebanyakan tidak mengetahui bahwa syariat Islam merupakan solusi bagi setiap masalah di dalam kehidupan manusia, baik dalam ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Islam adalah solusi atas semua masalah manusia, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga untuk umat agama dan kepercayaan lain. Islam mampu memecahkan masalah pribadi manusia dan juga masyarakat secara komunal. Islam adalah agama syumul (universal), mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Sebagian besar umat Islam menerapkan syariat pada sisi ubudiyah saja, seperti shalat, puasa, haji, dzikir, membaca al-Qur’an, pernikahan serta zakat. Tetapi mereka meninggalkan penerapan syariat di dalam kehidupan bernegara, ekonomi, budaya, muamalah, dan ilmu pengetahuan.

Oleh karenanya, Indonesia masuk  dalam kategori negara paling agamis dalam keshalehan pribadi. Tetapi berada pada peringkat belakang dalam hal kesalehan sosial. Pertanyaannya, kenapa terjadi kesenjangan yang sangat jauh antara kesalehan pribadi dan keshalehan sosial?.

Selama ini agama hanya dijalani dalam tataran semangat ritualitas belaka. Keberagamaan orang Islam Indonesia seakan-akan sudah cukup terwakili oleh praktik-praktik dan ritus-ritus Islam, seperti shalat, puasa, zakat atau haji. Masyarakat muslim Indonesia agaknya merasa tenang dan nyaman manakala kondisi yang dianggap kondusif sudah tercipta untuk melakukan berbagai macam peribadatan semacam itu.

Pijakan dasar yang digunakan oleh umat Islam terhadap sikap menomorduakan pelaksanaan syariah Islam ialah munculnya keinginan untuk melahirkan dan membangun Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang utuh dalam wawasan masyarakat plural. Pluralisme agama, etnis dan suku dipandang sebagai faktor utama untuk tidak menerapkan syariah Islam di Indonesia.

Sesungguhnya, dalih seperti tersebut terlalu berlebih-lebihan dan terasa ganjil,  jika ditakar dengan apa yang sebenarnya ada dan termuat dalam materi syariah Islam itu sendiri karena syariah Islam sebetulnya bukan hanya merupakan sebuah institusi aturan kehidupan yang serta-merta berpihak kepada kepentingan umat Islam belaka, tetapi lebih jauh kesempurnaan syariah Islam sedemikian akomodatif terhadap eksistensi agama-agama lain. Sifat dari syariah Islam tidak saja mewadahi keberadaan umat Islam, namun juga mampu menyerap semua kepentingan agama-agama lain.

Sangat jelas dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pada saat beliau membangun Madinah sebagai sebuah institusi negara yang majemuk dan plural. Selain membina persaudaraan sesama orang-orang Islam atau ukhuwah Islamiah di kota Madinah, Nabi SAW juga membina persaudaraan antara sesama umat manusia atau ukhuwah insaniah.

Dalam mengatur kota Madinah, yang penduduknya terdiri dari berbagai suku, ras dan agama, Nabi membuat perjanjian dengan berbagai kalangan yang disebut Konstitusi Madinah atau Piagam Madinah. Masyarakat Madinah terdiri dari kaum muslimin, yang merupakan gabungan antara kaum Muhajir dan kaum Anshar, masyarakat Yahudi yang terdiri dari berbagai suku, kaum Nasrani dan masyarakat Madinah yang masih musyrik. Dalam Piagam Madinah itu, semua anggota kelompok diakui eksistensinya dan dilindungi hak-haknya. Semua memperoleh hak melaksanakan agama dan kepercayaannya tanpa boleh diganggu gugat oleh siapapun. Lalu semua juga sepakat tampil membela kota Madinah jika datang serangan dari luar.

Piagam Madinah adalah the first written constitution in the world. Konstitusi di zaman Nabi, sebagai Konstitusi tertulis yang tertua itu terdiri dari sepuluh bab, berisi 47 Pasal. Di antaranya mengatur mengenai persaudaraan seagama, persaudaraan sesama umat manusia, pertahanan bersama, perlindungan terhadap minoritas, pembentukan umat dan sebagainya.

Sejarah mencatat bahwa negara Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tahun 622 M, adalah sebuah negara maju; dalam arti negara itu merupakan negara ideal dalam perspektif peradaban Islam. Negara ideal (negara maju) adalah negara taqwa, yakni negara yang masyarakatnya beriman dan bertaqwa. Negara seperti itulah yang akan mendapatkan kucuran berkah Allah dari langit dan bumi. Negara Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan para Khulafa al-Rasyidin bisa dijadikan sebagai negara model yang ideal. Sehingga para pelajar Muslim di sekolah-sekolah, sangat perlu diperkenalkan konsep ideal Negara Madinah agar anak-anak Muslim bisa memahami sejarah dan bangga dengan khazanah sejarah Islam. .

Seperti buah simalakama, pada satu sisi, bangsa Indonesia harus mempertahankan keutuhan bangsa yang majemuk. Tetapi, pada sisi lain, penerapan syariah Islam secara sempurna menjadi sebuah keharusan yang wajib dilakukan. Inilah persoalan berat yang tengah melilit umat Islam Indonesia. RED

Berita ini 1.018 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Investigasi

Waspada Bilik Disinfektan, dari Iritasi sampai Belum Lolos Uji

Investigasi

Wabup Buka Raker Front Pergerakan Pemuda SII Takalar

Investigasi

Kodim Soppeng Lakukan Komsos dengan Masyarakat

Investigasi

Pesan Kapolres Labuhanbatu Saat Kunjungi Polsek Silangkitang

Investigasi

HUT TNI ke 75, Kapolres Labuhanbatu Bawa Pasukan Geruduk Markas Kodim 0209 LB

Investigasi

Pedangdut Ridho Rhoma Kembali Ditangkap Terkait Narkoba

Investigasi

Antisipasi Ditolak Warga, Polisi Bentuk Tim Khusus Kawal Pemakaman Jenazah Corona

Investigasi

Kapolda Sumut Apresiasi Vaksinasi Massal